Pintar, Bertampang, Alim, Berharta, Bertahta, semuanya oke :). Tapi bagaimana dengan emosi? Well, It’s not okay. Arogansi berbahaya, memang. Terkadang seseorang sampai tidak memperhatikan kondisi dan situasi sekelilingnya. Ngotot boleh, maksa boleh tapi tentu harus berdasar. Ibaratnya berdebat tanpa bukti yang sahih.
Saya berulang kali membaca buku Menyantunkan Amarah tapi sampai hari ini saya masih belum bisa mempraktekkannya kepada kengototan dan arogansi. Rasanya itu ketika kita berpendapat, lalu disanggah dengan pernyataan yang salah, inginnya kekeuh dan mengatakan “Elu ngerti dengan jelas ngga ngotot gitu? Kalo ngga ya udah jangan komentar, jangan ngeluh” tapi pada akhirnya hanya menggerutu, “ya sudahlah, mana yang bener menurut kengototan dan kebegoan lu aja -,-”.
Sedikit demi sedikit saya mulai dan merasa harus belajar, bukan
memaksa memperbaiki arogansi orang lain, tapi memaksa diri saya belajar
menerima dan Lillahita’ala aja dengan sikap demikian. Ya, saya tau
sayapun terkadang egois dan emosi ketika berdebat. Namun, dengan bertemu
satu, dua orang yang bersikap demikian saya jadi berpikir, ternyata ini
rasanya menghadapi sikap seperti ini, bagaimana jika ketika saya
begini? Ya, tentu orang lain pun akan jadi menggerutu dan ga nyaman,
bukan?
Seburuk-buruknya sifat orang lain, pasti ada baiknya. Begitupun
sebaliknya, sebaik-baiknya orang lain, pasti ada buruknya. Yang
terpenting itu bukan bagaimana berusaha merubah apa yang buruk pada orang
lain, akan tetapi bagaimana berusaha merubah apa yang buruk pada diri
sendiri. Saya masih hapal betul yang dikatakan orang Minang, “Bacamin
ka diri surang, piciak diri surang baru piciak urang lain. Kok sakik,
jan cubo pulo piciak ka urang kalau indak nio dipiciak urang.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar