Pages

Plurk

Facebook Badge

Selasa, 04 Juni 2013

Mungkin Tuhan Punya Cara Lain.

Lebih baik dibenci daripada tidak dipedulikan. Setidaknya orang yang membenciku masih punya waktu untuk mempedulikanku.
- Fiersa B

Aku tak begitu pintar untuk bersanding denganmu. Ketika kau kerap berucap untukku berpikir dengan kepintaranku. Kepintaranku tak sepadan dengan kategori pintarmu. Mungkin juga kau beranggapan aku bodoh ataupun dungu.

Kita berbeda, aku suka rumah dan kau suka kebebasan. Tapi perbedaan bukan untuk saling memaksakan. Aku suka rumah, bukan berarti aku memaksamu untuk menyukai rumah dan selalu pulang. Kau suka kebebasan, bukan berarti kau memaksaku untuk mencintai kebebasan pula.

Aku memberi celah bagi kebebasanmu, apa aku juga tak berhak atas kebebasanku. Tidak, jangan kau artikan kita menuju “kebebasan” dengan maksud yang sama. Kebebasanku adalah kebebasan di dalam rumah. Kebebasan untuk di dengar, kebebasan untuk mengingatkan, dan kebebasan untukku diperlakukan adil di rumahku.

Ataukah mungkin hubungan kita mulai berkembang arogan dan egois?
Mencintai bukan membenarkan segalanya. Mencintai bukan tak ada perselisihan.

Jika kau berlaku hal yang jika orang lain lakukan padamu kau merasa sakit, jangan pernah lakukan pada orang lain. Kau saja tidak bisa menerima, apalagi orang lain? Segalanya diciptakan seimbang bukan?

Mungkin Tuhan punya cara lain untuk menerjemahkan perasaan kita. Atau kebersamaan kita. Apa kau masih memikirkanku ketika kita sama sama sulit? Apa kau masih memikirkanku ketika aku membutuhkan diwaktu kita tak berbaikan? Apa kau masih memedulikanku diwaktu kau marah? Apa kau memberiku celah ketika aku juga melakukan hal yang sama sepertimu? Aku masih.

Ditinggalkan. Untuk kesekian kali cukup bagiku. Mungkin Tuhan punya cara lain menunjukkan jalan padaku. Mungkin Tuhan punya cara lain mengajarkan aku lebih kuat dengan cara-cara seperti ini.

Sabtu, 01 Juni 2013

Hal Yang Sering Menjadi Penyebab Pertengkaran

Tanpa disadari, terkadang kata “egois” menjadi hal yang paling sering diungkapkan atas terjadinya pertengkaran. Ini bisa terjadi kepada hubungan yang masih pacaran, atau bahkan yang sudah berumah tangga.

Meski membuang sifat buruk pada diri masing-masing tak dapat dilakukan sekaligus secara instan, cobalah untuk terus berusaha. Namun bukan berarti Anda harus berubah segala-galanya. Ketahui mana yang baik untuk dirubah pada diri masing-masing, bergeserlah secara perlahan-lahan. Anda tentu mendambakan sebuah hubungan yang harmonis dan mampu menghadapi banyak cobaan bukan? Lalu apa saja hal yang sebenarnya sering menjadi pemicu pertengkaran dalam hubungan?


1. Ketidakpercayaan
 Sebuah hubungan dibekali oleh rasa saling percaya. Tanpa adanya rasa tidak percaya satu sama lain, dapat memicu berbagai hal yang dapat memicu timbulnya pertengkaran. Pertengkaran yang tidak dapat diselesaikan dengan baik akan dapat menimbulkan perpisahan. Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa saling percaya diantara hubungan kalian. Jika memang sudah terlanjur tumbuh rasa ketidakpercayaan, segera ketahui apa penyebab ketidakpercayaan yang timbul diantara Anda berdua, dan coba bicarakan dengan baik-baik untuk mencari solusi terbaik.

2. Terlalu Posesif
 Mencurahkan perhatian itu wajar, namun sikap yang terlalu posesif, dan over protective, akan membuat pasangan seperti hidup dalam penjara. Ia akan lebih rentan melakukan kebohongan untuk menghindari pertengkaran. Dan suasana tidak nyaman yang sering ditimbulkan, dapat memicu terjadinya perpisahan. Jangan sampai pasangan Anda merasa lebih nyaman berada di dekat orang lain, daripada di dekat Anda. Hindari pemicu terjadinya perselingkungan seperti ini dalam hubungan Anda.

3. Beban Pikiran yang Besar/ Stress
 Stress yang ditimbulkan dari luar hubungan dapat mempengaruhi sebuah hubungan jika Anda tidak dapat mengelolanya dengan baik. Begitu pula stress di dalam hubungan Anda. Situasi seperti ini harus segera dicari solusinya. Coba lakukan sesuatu yang dapat meredam stress dan meringankan beban pikiran Anda. Juga jangan jadikan hubungan Anda sebagai pelampiasan stress yang Anda alami, namun jadikan hubungan Anda sebagai tempat meredam stress Anda.

4. Menyimpan Rasa Dendam
 Rasa dendam adalah hal yang harus dihindari. Jangan jadi seseorang yang pendendam. Lihat kembali, kemana tujuan hubungan Anda berdua. Masa depan adalah yang utama. Lupakan masa lalu, dan buang rasa dendam.

5. Kurang Berkomunikasi
Salah satu kunci keberhasilan dalam berhubungan adalah membuka ruang komunikasi dengan baik. Berdiam diri dan menyimpan perasaan kesal berlama-lama bukanlah hal yang baik. Dari hal kecil hingga hal besar, cobalah untuk berdiskusi dan berkomunikasi dengan pasangan, untuk membina saling keterbukaan satu sama lain. Keterbukaan inilah yang dibutuhkan untuk membuat sebuah hubungan, juga membangun pribadi masing-masing menjadi lebih selaras, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

6. Selalu Mempertahankan Ego dan Berselisih Pendapat
Penyebab pertengkaran yang juga sering disebut-sebut adalah akibat egoisme. Kurangnya komunikasi, atau adanya kecurigaan membuat masing-masing memiliki persepsi yang berbeda. Cobalah meredam ego dan menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Belajar bersikap saling memberikan simpati dan empati. Perbedaan pendapat itu akan jadi hal baik, jika Anda dapat mengelola perbedaan tersebut untuk mendapatkan jalan tengah, dan menjadi sebuah keselarasan bagi hubungan Anda. Cobalah melihat berbagai hal lebih banyak dari sisi positifnya, ketimbang dari sisi negatifnya.

7. Hubungan dengan Mantan Kekasih
 Ketahui batas kewajaran hubungan antara Anda dan mantan kekasih, ketika Anda sudah punya hubungan baru. Hargai dan ayomi pasangan Anda sebagai seseorang yang punya tempat lebih spesial di hati Anda saat ini. Cobalah untuk tidak membandingkan pasangan Anda yang sekarang, dengan mantan kekasih. Fakta ini juga sering menjadi penyebab pertengkaran dalam suatu hubungan.

8. Menganggap Pasangan Bukanlah Hal Penting
 Jangan posisikan pasangan Anda sebagai seseorang yang tidak penting dalam hidupnya. Anda dapat menyeimbangkan antara kehidupan hubungan Anda dan pasangan dengan kehidupan Anda dan lingkungan sosial Anda dengan baik. Cobalah saling memahami posisi masing-masing di luar hubungan Anda, agar Anda tidak perlu lagi menjawab pertanyaan, siapa yang yang lebih penting.

9. Merasa Tak Perlu Minta Maaf
Apakah Anda pernah merasa tak perlu minta maaf pada kekasih Anda? Ketahuilah, bahwa kata maaf bisa menjadi peredam yang baik atas kemarahan yang ada. Namun kata maaf itu harus dari hati, dan disertai dengan perilaku kenyataanya, bukan hanya di bibir saja. Jangan gengsi atau malu untuk meminta maaf, jika memang Anda melakukan kesalahan. Anda dapat saling memperbaiki kesalahan untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dan dapat saling mengambil hikmah dari kesalahan.

Minggu, 26 Mei 2013

Sometimes I Feel Unbelieve, But I Still Stand Here ..

Harus Bagaimana ?
Ya, mungkin aku hanya harus diam saja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Sekalipun luka rasanya, tapi aku rasa aku harus terbiasa demikian. Everything is ok ! Begitu kan ???
Oh iya, suatu waktu aku juga pernah merasa tidak mempercayai apapun, bahkan aku merasa tersingkir dari semua ini dan hidup di pinggir. Ya, menyedihkan as you look… Bahkan terkadang aku menangis sendiri dan berteriak.

Lalu Harus Bagaimana ?
Tidak ! Tidak ! Aku hanya harus selalu bergembira dan tersenyum dan baik-baik saja. Tapi argh ! , aku tetap saja wanita bukan ? Dan satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya berangan-angan, andai saja seperti ini…. and then, as usually Rolling Rolling On the Floor so T.T

Kemudian Harus Bagaimana ?
Baiklah , aku harus menata kembali hidupku, meskipun hanya di duniaku sendiri. Tapi setidaknya aku lebih dari sekedar berangan-angan. Aku rasa ini lebih baik, dari pada aku terus berangan, berharap, dan kemudian hanya bersedih !

Akhirnya Harus Bagaimana ?
Inilah akhirnya, aku harus terbiasa dan tetap memandang lurus ke depan. Yap Yap ! Putuskan sendiri bagaimana menjalani semuanya dan jangan biarkan hidupmu menyadihkan, sekalipun luka…. Tap tap tap, nikmati saja dan kau rasakan betapa dirimu kuat dan lebih baik dari yang kau kira. Beginilah hidup, jangan biarkan sesuatu membuatmu luka.

katakan saja, AKU TERLALU KUAT JIKA HANYA DENGAN ITU ! Bergembiralah sepanjang waktu yang kau mau, sekalipun luka mengiringimu :)

Selasa, 21 Mei 2013

Pas Lagi Sedih, Ngapain?

1. Mewek. Bukan, bukan karena cengeng tapi lebih karena telah berusaha melawan dunia yang sedemikian besar dengan kekerdilan diri sendiri. Nangis di kamar, tutup gordyn, matiin lampu, ambil tissue, mulai deh. Sampe mata bengkak dan ampas tissue bertebaran, hingga akhirnya tertidur sendiri. Pas bangun rasanya cukup relieved.

2. Gigit bantal. Saking geramnya lagi sedih mau marah ga bisa. Oke, gigit bantal lebih baik buat melampiaskan emosi. It works! rahang jadi cape, pegel sendiri akhirnya emosi reda sendiri.

3. Naik Angkot Turun Angkot kemana suka. Percaya atau ga, sepanjang jalan yang aku lewatin merenggut galau dan sedih yang lagi dateng. Seolah-olah kesedihan dan kemarahan bercecer satu persatu dijalanan. Sampe akhirnya pulang…. lega deh. Yes, I’m proud of you, thanks always be there angkot.

4. Nyanyi. Sadar banget suara pales, Just because I’m not a good singer didn’t mean I will stop to sing.

5. Nongkrong di Book Store. Sayangnya yang satu ini udah mulai berkurang, it cause some reasons: 1. Tempat tongkrongan biasa aku ngemper ditutup; 2. Jadwal kerja padat ga punya banyak waktu lagi ngemper di toko buku kecuali bener-bener butuh buku.

6. Menghindari orang. Udah cukup banyak yang kena getah. Kan kasian ya? Lebih suka menyendiri sampe sedihnya hilang. I love being alone, but I hate being lonely, beda ya sama orang yang suka apa-apa sendiri dan ga mau bergaul.

Selasa, 09 April 2013

Dalam Pilu yang Miris

Saat aku benar - benar yakin ketika aku mencintaimu,
aku tak ingin melepaskanmu, bahkan memperjuangkanmu.
Aku membanggakanmu di tengah orang mencibir perjuanganku.

Namun ketika aku tau aku salah ketika memperjuangkanmu,
aku rela melepasmu, rela yang belum ikhlas.
Ini bukan salahmu, ini salahku karena percaya terhadap setiap kata yang kau ucap.

Ini salahku karena terlalu serius mempermainkan permainan yang kau buat.
Ini salahku karena tenggelam terlalu dalam ke dalam riak yang kau buat.
Ini salahku karena terlalu jujur terhadap perasaanku, yaitu mencintaimu.

Aku rela..
Dan mau tidak mau harus rela, karena kau bukan milik ku dan tidak akan pernah.
Kau juga bukan kiri ku, karena kanan hanya ada satu kiri, yaitu dia. Bukan aku!
Kau juga bukan untukku..
Tidak akan pernah!

“Ketika hal yang aku perjuangkan itu salah, aku pun menyesali diri sendiri”

Senin, 08 April 2013

Tuhan Saja Memaafkan, Kenapa Kau Tidak?

Ya aku tau, Tuhan Maha segalanya, tapi aku bukan Tuhan.
Aku memaafkan, tapi aku masih belum mampu melupakan.
Satu yang selalu aku pikirkan, “apakah akan terulang lagi?”
Ya, aku percaya padamu, sangat percaya untuk saat ini.
Tapi ada perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata padamu.


Aku sering kali bermimpi tentang suatu hal,
dan perlahan mimpi itu dinampakkan Tuhan padaku.
Aku tidak takut, aku hanya khawatir bagaimana reaksiku nanti.
Aku khawatir tak mampu berpikir jernih.
Aku khawatir menjadi kejam pada mereka yang sekaum.


Ku bukan orang orang suci,
Untuk Tuhanku aku akan belajar,
Sungguh aku ingin seperti Aisyah,
Sungguh ketika hatiku terluka ketika mengingatnya,
Aku tak ingin bibirku berkata,
Sungguh aku tak ingin melukaimu dengan luka yang aku rasakan,
Karena Tuhan perlahan mengajarkanku,
Bahwa kesalahan tak selamanya menjadi kesalahan.


Kau pun pernah terluka olehku,
terluka olehku, namun kau juga belajar memaafkanku.


Terima kasih untuk semua cinta,
Terima kasih selalu mengingatkanku,
Terima kasih selalu ada untukku.


Loving you as always.

Senin, 01 April 2013

Tentang Cinta, Tak Ada Yang Harus Disesali


Setiap orang akan jatuh cinta, pertama dan satu-satunya. Seseorang akan mendobrak pintu hatimu dan mengobrak-abriknya tanpa bisa kau kendalikan. Lalu hanya akan ada satu dari dua hal yang ditinggalkannya: kenangan manis atau kenangan buruk. Keduanya sama-sama mengerikan. Mereka tidak akan pernah lepas dari ingatanmu, dari hatimu, dari setiap helaan napas yang kau ambil. Kenangan itu akan muncul di setiap kilasan lagu yang membuatmu teringat. Muncul di kilasan wajah yang kaupikir adalah dia. Muncul di sesakkan napas yang telanjur kau ambil karena memandang punggung yang mirip dengan punggungnya, atau hirupan parfum yang tercium seperti wangi tubuhnya. - Adzimattinur Siregar
Satu hal yang sampai hari ini tertanam dibenakku:
“Ingat, jangan mau dengan pria yang pernah berpacaran. Layaknya mobil, perawatan mobil bekas lebih mahal dan merepotkan ketimbang mobil baru.”

Aku bukanlah orang suci yang pantas menilai ini salah dan ini yang benar. Aku bukanlah orang yang melegalkan ataupun mengilegalkan pacaran. Bagiku pacaran hanya untuk menamainya. Masing-masing orang siapa yang berhak menilai? Hanya Tuhan.
Tapi satu yang aku yakini, pacaran tidaklah sebaik ekspektasi yang aku dan mereka jelaskan. Kalaulah aku boleh memilih aku tidak mau berpacaran, bukankah lebih baik menikah saja? Dan satu hal yang sejak hari itu hingga saat ini yang selalu aku yakini,
“Hidup dan pernikahan jangan pernah disesali, kedua-duanya akan selalu menghadirkan yang baik dan yang buruk. Bertanggungjawablah.”

Memilih itu mudah, tapi kau harus paham, memilih haruslah dengan logika, waspadalah dengan hati. Tak sedikit orang mampu bertanggungjawab dengan apa yang telah ia pilih. Kau tau? mereka orang-orang pengecut yang tak siap dengan resiko yang ia pilih.
Maaf jika kau memandang aku terlalu keras memperlakukan. Tapi yang harus kau tau, Cinta bukanlah hal yang mudah untuk dijaga. Cinta tak semudah itu, tak semudah itu.

Untuk beberapa hal, seseorang akan salah memilih. Namun jika ia memperhatikan dengan amat teliti, apa yang ia pilih akan menampakkan wujudnya. Banyak yang teronggok memperkenalkan diri sebagai berlian yang anggun. Jika kau perhatikan dengan amat teliti, berlian yang sejatinya berlian anggun tertimbun jauh dalam onggokan berlian yang menampakkan dirinya.
Bukan, bukan aku berlaku kejam pada kaum mereka, hanya saja memberi batas agar tak merasakan luka yang tak perlu. Bukan pula mengajarkan wanita menjadi keras dan kasar, hanya saja tegas dan berhati-hati dengan cinta. Karena sejatinya ada dua cinta yang tumbuh dalam hati, cinta sebenarnya cinta dan cinta yang membuai, inilah cinta buta.
Aku hanya tak ingin mengulang kesalahan yang sama tentang cinta, tentang cinta dengan kebodohan, cinta dengan janji. Kau tau? tak seorangpun bisa menjanjikan cinta! Ingat itu!!
Aku dengan pilihanku, aku akan mempertanggungjawabkan keputusanku pada Tuhanku. KepadaNya aku menggantungkan cintaku. Tuhanku Maha Tahu apa yang ada dihatiku. Kau tahu, jikalau aku bisa mundur ke masa lalu, aku tak akan memilih pacaran. Pacaran adalah kesalahan besar yang aku buat bersama pilihanku.

Bersyukur, Tuhan memisahkanku dan dia dalam jarak, dalam jarak yang menyadarkanku, tak ada yang mampu mengendalikan, membolak-balik hati, dan memastikan cinta. Hanya Dia, Dia yang akan menjaganya. Menikah adalah satu-satunya tujuanku untuk mengakhirinya. Tapi satu hal yang harus kau logikakan pula, menikah bukan perkara mudah. Menikah adalah tanggung jawab hidup dan mati, dunia dan akhirat.
Beruntung Tuhan meunjukkan bagaimana harus mencintai, beruntung Tuhan selalu mengingatkan kesalahan aku dan dia dalam mencintai. Aku tak pernah tau bagaimana akhirnya dan apa yang akan terjadi nanti. Ya kami memang bisa mengakhiri hubungan pacaran, tapi siapa yang memastikan bisa mengakhiri cinta? Tak ada. Hanya Dia.
Yang aku tau aku bersyukur dengan jarak kami, jarak yang ikut menjarakkan kami dengan kebodohan, namun tidak menjarakkan kami dengan hati.

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk mengucap ijab kabul, Imamku.. Imamku.. Jika cinta mampu memudahkan upayaku untuk menuntunnya, aku upayakan demi Tuhanku.
Untuk cinta yang bodoh aku menyesal, tapi untuk cinta sedikitpun aku tak menyesal. Tuhanku menitipkan padaku rasa yang harus aku pertanggungjawabkan. Sia-sia aku menyesali cinta. Tak ada seorangpun yang mampu menolak cinta. Kau tau? Tuhan yang berhak menilai, Tuhan yang berhak.
Ada keburukan yang harus ditinggalkan dan ada keburukan yang harus diperbaiki. Aku bukan malaikat yang selalu benar dan baik. Bukankah mencintai itu saling?
Masih ada waktu memperbaiki diri satu sama lain, masih ada waktu.

Untuk luka yang tak perlu aku rasakan tapi masih aku rasakan,
Untuk kebodohan yang aku sesali,
Untuk cinta yang tak akan pernah aku sesali. 
Berhati-hatilah dengan hati dan cinta.
Berhati-hatilah, jangan sampai kau merasakan luka yang seharusnya tak perlu kau rasakan.
Semoga aku, dia, dan kau tak akan mengulang kesalahan yang sama dalam cinta