Pages

Plurk

Facebook Badge

Selasa, 29 Januari 2013

Terpaksa, Kebiasaan, dan Kebutuhan

Bukan idealis, hanya saja mencoba realistis dan lebih logis. Sedikit membosankan dengan sebuah “monokratis” dalam pekerjaan. Bukan memilah milih kerja, hanya saja mesti ada sebuah tantangan yang membuatnya sedikit lebih menarik. Ada teori yang mengatakan bahwa, “hidup dengan sedikit tekanan terkadang lebih membentuk kepribadian.”

Bukan pula merasa hebat, hanya saja terkadang pekerjaan rumit (bukan berarti pekerjaan tak jelas T.T) lebih menantang. Dengan tekanan yang membuat kita merasa “bodoh” dan “nothing”, ada semacam dorongan untuk membuktikan bahwa kita tak sebodoh itu, entahlah bagi sebagian orang itu lecutan atau sekedar gertakan yang membuat ciut. Atau pun teman yang pintar dan tahu banyak hal, banyak iri yang selalu bergentayangan, mengapa saya tidak pintar dan juga tidak tau banyak hal?

Satu yang saya rasa selalu memberontak dalam diri saya, adalah ketika saya merasa geram dan ingin terus membuktikan “saya pantas untuk di atas rata-rata” bukan sombong atau merasa besar dan benar, hanya saja perbandingan relatif tak bisa diukur dari lingkungan tempurung kita, tapi dunia luar yang membuat kita hanya seolah seujung kuku, secuil. Banyak yang harus dikejar, mereka yang lebih berotak dari pada saya di luar sana, bukan hanya tempurung kecil ini yang membuat saya buta.

Ya, semua memang berawal dari keterpaksaan, tapi lama-kelamaan menjadi suatu kebiasaan, dan kemudian menjelma menjadi sebuah kebutuhan.

Untuk hal yang terkandang sebagian orang merasa picik dengan cemooh dan penyepelean. Tapi hal terbesar untuk berterima kasih adalah mereka yang membenci saya, menganggap saya kecil dan bodoh, juga mereka yang hadir untuk menguji saya dan menekan saya, terima kasih untuk telah memberikan tekanan pada diri saya, membuat saya terpaksa untuk mampu selalu kuat dan berdiri, membuat saya menyadari hal-hal terkecil dari diri saya yang selama ini terabaikan.

Mungkin jika yang saya dapat hanya kemudahan demi kemudahan, pujian demi pujian, saya akan terjatuh lebih dalam ketika suatu saat mendapati diri saya dalam keadaan terburuk.

Think the best, not the worst. Think the future, not the last.
Lakukan yang terbaik dalam keadaan terburuk sekalipun, untuk masa depan, bukan masa lalu (y)

Thanks a lot Allah, menghadirkan mereka di sekeliling saya,
Semoga tekanan dan keterpaksaan lain senantiasa menghadirkan hal positif bagi diri saya,
Syukran Katsiraan Ya Rabb :’)

Senin, 28 Januari 2013

No Action Talk Only, Ffuh -___-

I think I have to talk about….

Lagi-lagi semua orang akan berpikir saya ke idealis-idealisan atau kesempurna-sempurnaan. Tapi, siapa yang tidak setuju kalau “Louder sounds are ZERO?”
Tidak perlu berapi-api menunjukkan bahwa kita peduli terhadap sesuatu, tidak perlu spanning tinggi menunjukkan bahwa kita orang yang bijak, tidak perlu over act menunjukkan “I am a perfect person”.

Man Shabara Zhafira, Siapa yang bersabar akan beruntung, ada suatu siklus yang disebut siklus Ghazali, dimana siklus tersebut akan menunjukkan “who am I”, tanpa perlu kita menutupi sikap dihadapan orang lain. Logika sajalah, kita manusia dan tentu saja lahiriah tak hanya sifat yang baik-baik saja yang kita miliki. Kenapa harus marah ketika dikritik? kenapa harus on fire ketika disalahkan? Kenapa dan kenapa? 

Semua akan kacau beliau jika apa yang menggebu-gebu kita ucapkan pada kenyataannya tak sesuai dengan apa yang terjadi, tentu tidak cucok bukan?. Talk Less, Do More. Orang bilang itu cara paling ampuh mengambil jalan yang paling aman, tak perlu bertaruh urat segala urat dan pita segala pita di leher, tenang dan tunjukkan lewat tindakan, akan lebih bijak bukan?

Hmm, ya Bersyukur saja disetiap apa yang kita hadapi dan jalani, Syukur.. Syukur.. Syukur… Allah senantiasa akan menentramkan dan menenangkan hati kita.
Sedikit bicara akan memberi waktu lebih banyak untuk kita berpikir “do the best not speak louder”. Jadilah tenang dan anggun dalam keadaan terdesak sekalipun, dari sana akan terlihat kualitas dari pribadi kita.

Allah saja menjanjikan kok, siapa yang lebih Maha Dahsyat mengingkari janji-Nya???

Ya Allah, jadikanlah diam sebagai waktu berpikir terbaik untuk kami :’)
Cucok.. :D

Minggu, 27 Januari 2013

Sometimes in Environmental Law

Percaya atau tidak suasana hati menentukan kesialan, kurangnya ketentraman dan kenyamanan pemicu rencana berantakan.

Hukum lingkungan rasanya seperti kutukan Dementor yang menyerap seluruh daya dan upaya hingga putus asa dan pasrah. As usually, bangun subuh, ibarat hati dan pikiran dan hati sudah menolak, maka jadilah tak ada lagi gaya tarik menarik antara ancaman ujian, tugas, dan keinginan untuk bangkit dari kasyuuurr (baca: singgasana) :Dv.

Tugas dan sekelompok dengan senior itu, seperti kata peribahasa bagaikan menyatukan minyak dengan air, mustahil, sekali lagi M U S T A H I L.

Juga sangat konsensual sekali dengan percekcokan dengan “dia”, ya begitulah kira kira. Kacau semua kacau.. pikiran terbebani tidak tenang :(

Bolehkah hukum lingkungan disalahkan?
lengkap sekali rasanya nihil tugas, ujian telat, percekcokan, dan kacau.

Que sera sera, apa yang terjadi terjadilah, Wallahualam dengan hukum lingkungan w(o.O)w

asas konsensualisme antara hukum lingkungan dan kutukan dementor:
c.q polusi udara bikin sumpek, pencemaran dan perusakan lingkungan merusak bumi, maka dari itu hukum lingkungan juga berdampak bagi diri kita (tepatnya saya :|) dan membuat suasana hati “sumpek” seharian.

I have to love it, environtmental law

Jumat, 25 Januari 2013

I Will Try Not To Darl..

Maaf Darl..
Aku masih saja cerewet seperti biasanya,
Mengingatkan ini itu berulang kali,
Aku terlalu khawatir, terlalu peduli,
Tapi aku hanya ingin memastikan semua sudah baik.


Maaf Darl..
Aku masih saja merajuk suatu waktu kau abai,
Mengeluh dan tidak sabaran,
Aku cemburu dengan kegiatanmu,
Aku takut kau tak sempat mendengarkanku bercerita,
Dan aku hanya ingin memastikan hubungan kita baik baik saja.


Maaf Darl..
Mungkin kau melihat aku seperti ingin mengaturmu,
Mungkin kau melihat aku seperti memaksakan kehendakku,
Mungkin kau melihat aku seperti selalu ingin tahu dan ikut campur,
Tapi aku hanya ingin kau selalu terlihat baik,
Aku hanya ingin kau selalu punya arti untukku,
Aku hanya ingin selalu ada dan sedia,
Dan aku hanya ingin bisa melengkapi apa apa yang kurang bagimu.


Maaf Darl..
Mungkin caraku yang kurang baik,
Mungkin aku membuatnya lebih repot dan rumit,
Tapi aku perlu waktu untuk terbiasa,
Dan aku perlu waktu untuk siap,
Aku berusaha Darl..
Suatu hari, aku tidak akan cerewet lagi,
Suatu hari, aku tidak akan merajuk lagi,


Maaf Darl..
Terima kasih mengingatkanku,
I will try not to do that again for you,
Loving You as always

Kamis, 24 Januari 2013

Semoga Aku Selalu Mengertimu

Ya, nyatanya sekarang kita memang terpisah dan jauh.

Aku memang sepenuhnya tak bisa menjagamu, tapi do’a-do’aku yang akan selalu menjaga semoga segalanya baik-baik saja disana. Aku harap kau juga selalu merindukanku, meskipun apa daya aku tak bisa menghentikan kesibukkanmu, semoga aku selalu mengertimu.

Aku selalu menahan kedipanku dan menghentikan nafasku sesaat, saat aku merindukanmu, cukup terasa sesak, ya terkadang rindu merubah hariku. Rindu memang terasa berlebihan, tapi memang itu porsinya untukmu. 

Aku akan mencoba tak mengeluh saat kau pergi begitu saja, dan tiba-tiba meninggalkan pesan “maaf sayang, aku lagi di luar”. Aku akan mencoba tak mengeluh bahkan saat kau lupa berpamitan padaku yang jelas-jelas tak bisa tahu secara nyata dimana kau berada. Aku akan mencoba tak mengeluh saat kau terlalu lelah dan cenderung mengabaikanku, mengabaikan rinduku.  Aku akan mencoba tak mengeluh saat kau hanya membuatku menemanimu terlelap, dan berbicara pada hembusan nafasmu.  Aku tak mencoba tak mengeluh saat kau berkata “Aku capek, aku tidur dulu ya.” Padahal, aku sangat ingin ada bersamamu. Aku akan mencoba tak mengeluh meskipun kau menghubungiku akhirnya saat hanya tinggal lelah di sisa harimu.

Setidaknya, aku hanya ingin sibukmu tak mengurangi perhatianmu terhadapku. Tak ingatkah kau saat kau marah padaku karena aku terlalu lama membalas pesan darimu? Tapi apa yang terjadi? Kapan kau bisa paham?. Aku tak ingin mengulang memintanya lagi, sungguh aku tak ingin membuat keadaan lebih buruk dan membuatmu lebih kesal lagi. Dan aku masih harus bergelut dengan menunggumu? Bagaimana jika kita bertukar posisi agar kau mengerti?

Setidaknya, apa sesulit dan serumit itukah untuk sedikit waktu bagiku? Menyisakan waktu sebentar saja? Waktu yang ku minta tak sebanyak waktu yang kau habiskan. Dan harus berapa lama lagi? Salahkah aku mengeluh rindu padamu? Aku marah, tapi tidak. Kau akan tahu dengan sendirinya apa yang kurasakan. Dan seberapa kuat aku mencoba menahan dan memendamnya. Aku pun tak akan mencoba berbalik marah saat kau marah jika aku lupa membalas pesanmu, tak balik mengabarimu, ataupun mengabaikan rindumu.

Aku diam bukan berarti aku baik-baik saja. Tapi mungkin, inilah cara terbaik agar kau nyaman dan tidak terganggu oleh rinduku. Mungkin aku harus lebih banyak diam untuk memikirkanmu dan mempertahankanmu. Entahlah, aku hanya berharap semua ini, termasuk kita adalah kebahagiaan sempurna yang sedang terangkai.

Aku berharap bisa bersandar dipundakmu dan mendengar suaramu untuk menenangkanku, tapi aku harus sadar ternyata tidak. Dan perlahan saja, entah apa yang membuat air mataku mengalir seakan mengutarakan aku merindukanmu, ya mungkin hanya kalimat sederhana “aku kangen kamu”, tapi kau tahu sesak terasa di dadaku tiap kali aku mengucapkan itu.

Mungkin aku mengganggu dengan pesan-pesan itu, dengan bawel itu, dengan manja itu. Maaf sayang, maaf aku membuatmu kesal dan marah. Aku terdiam seketika membaca balasan pesan dan jawaban telpon darimu “ya, ga ada, udah, kumsalam”. Entah mengapa aku selalu dengan mudah terdiam saat kau marah, kesal, dan seperti tak mengharapkan kabar dariku, kosong dan hilang arah, mungkin hanya lamunan jika aku berpikir kau akan menyambutku dengan hangat dan menenangkanku, lalu memberi pengertian jika aku mulai merajuk.

Aku berusaha agar rinduku selalu bersemi untukmu. Aku selalu mencoba membaca berulang kali pesanmu yang telah lalu, seolah itu adalah pesan yang kau kirim untukku saat ini. Senyum di pesan itu mungkin memang hanya sebuah simbol, sederhana, tapi berarti bagiku. Aku sudah cukup tenang mengingatnya

“Ini akhir minggu, tolong, jangan terlalu sibuk dan mengabaikanku lebih lagi”. Sungguh ingin sekali rasanya aku mengatakannya lagi dan lagi hingga kau mengerti, tapi tidak. Aku tak ingin mengganggu dan membuatmu kesal lagi dengan rindu bodohku.

Semoga aku selalu mengertimu. Semoga ketika kau merindu, kau tak akan merasakan betapa sesaknya rindu itu dalam diam.

Senin, 21 Januari 2013

Ya Inilah, Namanya Juga Cuma Rumah Singgah

Senang bisa bergabung dengan teman-teman penggiat rumah singgah. Semoga program ini tidak hanya berjalan jangka pendek saja ya.

Ada yang lain ketika kita mulai bergabung dengan mereka, mendengarkan cerita mereka. Polos, apa adanya. Ketika ditanya, “seneng ga disini?”

Ya, gimana ya namanya juga cuma rumah singgah. Tempat ngilangin jenuh, ngilangin penat dan lari dari rutinitas. Iya rumah singgah. Tempat ketawa, tempat cerita, tempat nangis, tempat disayang. Tempatnya agak jauh, tempatnya teduh, tempatnya ngangenin. Tempat istirahat sebentar dan besoknya mesti pergi lagi. Iya inilah, namanya juga cuma rumah singgah. 

Kemudian kami tertawa, tapi tidak untukku. Perih sekali rasanya membayangkan harus hidup begini setiap hari. Tapi apa? Ya, lewat ini aku tak putus bersyukur. Adilkah yang seperti ini Tuhan?

Ya, sejak hari itu aku lebih memilih menangis dibanding tertawa terbahak, ternyata lebih berharga rasanya dikelilingi oleh orang-orang kecil ini dengan tulus dan apa adanya :’)

See You Bocah-Bocah yang selalu bersyukur meski hanya untuk cuma rumah singgah dan sebungkus nasi :’)

Minggu, 20 Januari 2013

Cerita Singkat Tentang Khadijah

“Sebaik-baik wanita pada jamannya adalah Maryam putri Imran dan sebaik-baik wanita dari umatnya adalah Khadijah.” (HR. Bukhari Muslim).

Jika ada perempuan yang mampu membuat Aisyah cemburu besar, maka ia adalah Khadijah. Jika ada perempuan yang mampu membuat Rasulullah SAW mengingatnya sepanjang waktu bahkan ketika beliau dengan isteri-isterinya, maka Khadijah lah orangnya, dan dengan Khadijah lah Rasulullah SAW bermonogami.

Kisah tentang wanita mulia Ummul-Mukminat Khadijah RA merupakan kisah yang penuh dengan kemuliaan, kisah yang penuh dengan teladan. Tinta-tinta sejarah telah mencatat keistimewaan yang dimilikinya. Ia meninggalkan teladan indah untuk para mukminah, bukan hanya dalam berakhlakul-karimah tetapi juga bagaimana ia beribadah, berkeluarga, dan bermuamalah.

Segala keistimewaan yang dimilikinya menjadikan ia perempuan beruntung sepanjang masa. Ia mendapatkan cinta sejati dari kekasih Allah. Bahkan ia wanita pertama yang yang mendapatkan berita masuk surga serta mendapatkan ucapan salam dari Allah SWT.

Keistimewaan tersebut sesungguhnya tidak serta merta datang kepada ibunda kita Khadijah, namun hal tersebut karena ia begitu mempesona. Ia dengan penuh kerelaan mengorbankan harta dan jiwanya untuk dakwah Rasulullah SAW. Dengan kematangan, kebijaksanaan, dan integritas dirinya, Khadijah menyokong, membangkitkan tekad, dan mengobarkan semangat dakwah Rasul. Cintanya yang besar mampu memberikan yang terbaik kepada Rasulullah SAW sehingga sang suamipun amat mencintainya.

Akhlak Khadijah semestinya dijadikan gambaran bagaimana semestinya seorang isteri bersikap kepada suaminya, sehingga sang isteri menjadi perempuan yang mampu memberikan kebahagiaan kepada keluarganya dan akhirnya terbentuklah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Berikut di bawah ini beberapa sifat Khadijah yang dapat dijadikan uswah bagi para isteri dalam usahanya untuk menjadi perempuan istimewa bagi suaminya.

Menerima suami apa adanya. Inilah teladan yang pertama yang diajarkannya. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, Khadijah merupakan wanita kaya raya di seantero Mekkah. Dengan harta dan kecantikan yang dimilikinya banyak laki-laki yang hendak meminangnya. Tetapi Khadijah lebih memilih Muhammad yang tidak memiliki apa-apa. Kemiskinan Muhammad tidak membuat Khadijah malu. Ia begitu mencintai dan menerima Muhammad apa adanya. Bagi Khadijah harta bukanlah segalanya, namun kebaikan dan kesalihan Rasulullah-lah yang menjadi pilihan utamanya.

Selalu ada ketika suami membutuhkan. Selama bersama Rasulullah, Khadijah selalu bersama dengan beliau dalam suka dan duka. Bahkan ketika terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh orang Quraisy, ia menjadi teman yang sangat setia. Tidak sedikitpun ia mengeluh atas semua yang terjadi pada keluarganya.

Penuh kasih sayang dan perhatian terhadap suami. Inilah sesungguhnya yang diperlukan oleh para suami, termasuk Rasulullah SAW. Khadijah perempuan yang memiliki cinta suci ini mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada Rasulullah SAW sehingga beliau tidak pernah menyakiti isteri yang sangat dicintainya itu. Rasulullah SAW bahkan bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku” (HR Muslim).

Rela berkorban demi membela suami. Khadijah mengajarkan kita untuk belajar memberikan yang terbaik kepada suami, berusaha memberikan semua yang dimiliki jika suami membutuhkan. Dengan kedermawanannya, Khadijah sanggup memberikan hartanya demi kepentingan dakwah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, “(Khadijah) beriman ketika orang-orang kafir kepadaku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dan dia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku”.

Berkata bijak dan menenangkan. Keistimewaan Khadijah yang lain adalah memiliki sikap lembut dalam bertutur kata dan bersikap bijaksana sehingga yang dikeluarkan dari lisannya hanyalah perkataan lembut dan menenangkan hati Rasulullah SAW. Perhatikanlah tutur kata Khadijah ketika terjadi peristiwa turun wahyu pertama yang membuat Rasulullah SAW lari ketakutan, Khadijah berkata, “Jangan khawatir, berbahagialah, sesungguhnya Allah tidak mungkin akan menghinakanmu dengan kejadian itu. Selama ini engkau selalu menyambung silaturahmi, jujur dalam berbicara, meringankan beban orang lain yang kesusahan, membantu orang lemah, menghormati tamu, dan mendukung setiap hal yang mengandung kebenaran”.

Mendidik anak-anak dengan baik. Salah satu keistimewaan Khadijah dibanding isteri-isteri Rasulullah yang lain adalah dari Khadijahlah Rasullah SAW mendapatkan keturunan. Nabi SAW besabda, “Allah mengaruniaiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari isteri-isteriku yang lain”.

Bukan hanya itu saja. Walau usianya sudah tua, ia mampu mendidik putra-putri mereka dengan penuh cinta dan kemuliaan hingga putra-putri Rasulullah memiliki akhlak yang baik dan keimanan yang kuat.

Bergaul baik dengan suami. Tidak pernah diceritakan kisah yang jelek mengenai pernikahan Khadijah dan Rasulullah SAW. Hal ini menunjukan pergaulan yang baik di antara keduanya. Keduanya paham mengenai hak dan kewajiban masing-masing sehingga tenanglah rumah tangga beliau.

Tawakal dan sabar. Inilah yang dilakukan Khadijah sebagai seorang isteri yang suaminya pada saat itu menjadi bulan-bulanan penghinaan masyarakat Quraisy. Tawakal dan bersabar menghadapi semuanya telah memberikan energi positif bukan hanya bagi Khadijah, tetapi juga terhadap Rasulullah SAW sehingga ia kuat menghadapi semuanya.

Khadijah adalah perempuan agung. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, ia mampu membuat Rasulullah SAW begitu mencintainya. Bahkan ketika Khadijah telah tiada pun Rasulullah SAW masih sering mengingatnya. Pernah suatu waktu Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah, ” Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik daripada dia”.